yes
Tampilkan postingan dengan label China. Tampilkan semua postingan

Buku Harian Sang Pramugrari yang Mengharukan
Gambar Ilustrasi /Catatan Buku Harian Pramugrari
Teras Berita - Seorang bapak tua yang datang dari desa, membopong sekantung ketela merah kering menempuh jarak jauh pergi menjenguk anaknya yang sedang kuliah di Beijing - China, tindak tanduknya selama di pesawat telah membuat seorang pramugari yang baik hati menjadi terenyuh. Pramugari tersebut menuliskan rasa harunya itu ke dalam buku harian dan disebar luaskan di internet, “Buku Harian Sang Pramugari” ini dengan cepat telah membuat puluhan ribu Netter terharu…

Saya adalah seorang pramugari biasa dari Eastern Airlines, karena masa kerja saya belum lama, jadi belum menjumpai masalah besar yang tidak bisa dilupakan, setiap hari terlewati dengan hal-hal kecil yaitu menuangkan air dan menyuguhkan teh. Tidak ada kegairahan dalam bekerja, sangatlah hambar. Tapi hari ini, tanggal 7 Juni, saya telah menjumpai suatu kejadian yang merubah pemikiran saya terhadap pekerjaan dan pandangan hidup.

Hari ini kami melakukan penerbangan dari Shanghai ke Beijing, penumpang saat itu sangat banyak, satu unit pesawat terisi penuh. Di antara rombongan orang yang naik pesawat ada seorang paman tua dari desa yang tidak menarik perhatian, dia membopong satu karung goni besar di punggungnya, dengan membawa aroma tanah yang khas dari pedesaan.

Saat itu saya sedang berada di depan pintu pesawat untuk menyambut para tamu, pikiran pertama yang menghampiri saya saat itu adalah masyarakat sekarang ini sudah sangat makmur, bahkan seorang paman tua dari desa pun memiliki uang untuk naik pesawat, sungguh royal.

Ketika pesawat sudah mulai terbang datar, kami mulai menuangkan air, hingga tiba di baris kursi ke 20-an, terlihat paman tua tersebut, dia duduk dengan sangat hati-hati, tegak tidak bergerak sama sekali, karung goninya juga tidak diletakkan di tempat bagasi bawaan, tingkah si paman tua itu menggendong karung goni besar sekilas seperti rak penyangga bola dunia (globe), tegak seperti patung.

Saat ditanya mau minum apa, dengan gugup dia menggoyang-goyangkan tangannya dan berkata tidak mau. Saat hendak dibantu untuk menyimpan karungnya di tempat bagasi dia juga menolak. Terpaksa kami biarkan dia menggendong karung tersebut. Beberapa saat kemudian tiba waktunya untuk membagikan makanan, kami mendapatkan bahwa dia masih duduk dengan tegak dan tidak bergerak sama sekali, kelihatannya sangat gelisah, saat diberi nasi, dia tetap saja menggoyangkan tangannya menolak tanda tidak mau.

Karenanya kepala pramugari datang menghampirinya dengan ramah menanyakan apakah dia sedang sakit. Dengan suara lirih dia berkata ingin ke toilet tapi dia tidak tahu apakah boleh berkeliaran di dalam pesawat, dia takut merusak barang-barang yang ada di dalam pesawat.

Kami memberitahu dia tidak ada masalah dan menyuruh seorang pramugara mengantarkannya ke toilet. Saat menambahkan air untuk kedua kalinya, kami mendapati dirinya sedang mengamati penumpang lain minum air sambil terus menerus menjilat-jilat bibirnya sendiri, karenanya kami lantas menuangkan secangkir teh hangat dan kami letakkan di atas mejanya tanpa bertanya kepadanya.

Siapa sangka tindakan kami ini membuat ia sangat ketakutan dan berkali-kali ia mengatakan tidak perlu, kami pun berkata kepadanya minumlah jika sudah haus. Mendengar demikian dia melakukan tindakan yang jauh lebih mengejutkan lagi, buru-buru dia mengambil segenggam uang dari balik bajunya, semuanya berupa uang koin satu sen-an, dan disodorkan kepada kami. Kami mengatakan kepadanya bahwa minuman ini gratis, dia tidak percaya. Dia sepanjang perjalanan beberapa kali ia masuk ke rumah orang untuk meminta air minum tetapi tidak pernah diberi, bahkan selalu diusir dengan penuh kebencian.

Akhirnya kami baru mengetahui ternyata demi menghemat uang, sepanjang perjalanannya ia sebisa mungkin tidak naik kendaraan dan memaksakan diri berjalan kaki hingga mencapai kota terdekat dengan bandara, barulah dia naik taksi ke bandara, bekal uangnya tidak banyak, maka dia hanya bisa meminta air minum dari depot ke depot sepanjang perjalanan yang dilewatinya. Sayang sekali dia sering sekali diusir pergi, orang-orang menganggapnya pengemis.

Kami menasihatinya selama beberapa waktu lamanya hingga akhirnya dia mau mempercayai kami, duduk, lalu perlahan-lahan meminum tehnya. Kami menanyakan apakah dia lapar, maukah memakan nasi, dia masih tetap saja mengatakan tidak mau. Dia bercerita bahwa ia memiliki 2 orang putra, keduanya bisa diandalkan dan sangat berguna, keduanya diterima di perguruan tinggi, yang bungsu sekarang kuliah di semester 6, sedangkan si sulung telah bekerja.

Kali ini dia ke Beijing menjenguk anak bungsunya yang sedang kuliah. Karena anak sulung sudah bekerja bermaksud menjemput kedua orang tuanya untuk tinggal bersamanya di kota, akan tetapi kedua orang tuanya tidak terbiasa, mereka hanya menetap beberapa waktu lamanya lalu kembali lagi ke desa.

Kali ini karena anak sulungnya tidak ingin sang ayah susah payah naik angkutan, maka dibelikanlah tiket pesawat khusus bagi ayahnya dan bermaksud menemani ayahnya untuk berangkat bersama dengan pesawat karena sang ayah tidak pernah menumpang pesawat sebelumnya, ia sangat khawatir ayahnya tidak mengenali jalan. Akan tetapi ayahnya mati-matian tidak mau naik pesawat karena beranggapan bahwa hal tersebut adalah suatu pemborosan.

Akhirnya setelah bisa dinasihati sang ayah tetap bersikukuh untuk berangkat sendirian, tidak mau anaknya memboroskan uang untuk membeli selembar tiket lagi.

Dia membopong sekarung ketela merah kering yang diberikan pada anak bungsunya. Ketika pemeriksaan sebelum naik ke pesawat, petugas mengatakan bahwa karungnya itu terlalu besar, dan memintanya agar karung itu dimasukkan ke bagasi, namun dia mati-matian menolak, dia bilang takut ketelanya hancur, jika hancur anak bungsunya tidak mau makan lagi. Kami memberitahu dia bahwa barang bawaannya aman jika disimpan disitu, dia berdiri dengan waspada dalam waktu lama, kemudian baru diletakkannya dengan hati-hati.

Selama dalam perjalanan di pesawat kami sangat rajin menuangkan air minum untuknya, dan dia selalu dengan sopan mengucapkan terima kasih. Tapi dia masih bersikukuh tidak mau makan. Walaupun kami tahu perut si paman tua sudah sangat lapar. Sampai menjelang pesawat akan mendarat, dia dengan sangat berhati-hati menanyakan kepada kami apakah kami bisa memberikan sebuah kantongan kepadanya, yang akan digunakan untuk membungkus nasi jatahnya tersebut untuk dia bawa pergi.

Dia bilang selama ini dia tidak pernah mendapatkan makanan yang begitu enak, dan dia akan bawakan makanan itu untuk diberikan kepada anak bungsunya. Kami semua sangat terkejut. Bagi kami nasi yang kami lihat setiap hari ini, ternyata begitu berharganya bagi seorang kakek tua yang datang dari desa ini.

Dia sendiri enggan untuk makan, dia menahan lapar, demi untuk disisakan bagi anaknya. Oleh karena itu, seluruh makanan yang sisa yang tidak terbagikan kami bungkus semuanya untuk diberikan kepadanya agar dibawa. Lagi-lagi dia menolak dengan penuh kepanikan, dia bilang dia hanya mau mengambil jatahnya saja, dia tidak mau mengambil keuntungan dari orang lain. Kami kembali dibuat terharu oleh paman tua ini.

Meskipun bukan suatu hal yang besar, akan tetapi bagi saya ini adalah suatu pelajaran yang sangat mendalam.

Tadinya saya berpikir bahwa kejadian ini sudah selesai sampai disini saja, siapa tahu setelah para tamu lainnya sudah turun dari pesawat, tinggallah paman tua itu seorang diri, kami membantunya membawakan karung goninya sampai ke pintu keluar, saat kami akan membantunya menaikkan karung goni tersebut ke punggungnya, mendadak paman tua itu melakukan suatu tindakan yang tak akan pernah saya lupakan seumur hidup: dia berlutut di atas tanah, lalu dengan air mata berlinang dia bersujud kepada kami dan mengatakan, “Kalian semua sungguh adalah orang-orang yang baik, kami orang desa sehari hanya bisa makan nasi satu kali, selama ini kami belum pernah minum air yang begitu manis, tidak pernah melihat nasi yang begitu bagus, hari ini kalian bukan saja tidak membenci dan menjauhi saya, malah dengan ramah melayani saya, sungguh saya tidak tahu bagaimana harus berterima kasih kepada kalian, saya hanya bisa berharap kalian orang-orang yang baik suatu hari nanti akan mendapatkan balasan yang baik”.

Sambil tetap berlutut, sambil berkata seperti itu, sambil menangis, kami semua buru-buru memapahnya untuk berdiri, sambil tiada hentinya menasihatinya dan menyerahkannya kepada seorang penjaga yang bertugas untuk membantunya, setelah itu kami baru kembali ke pesawat untuk melanjutkan pekerjaan kami.

Terus terang saja, selama 5 tahun saya bekerja, di dalam pesawat saya telah menemui berbagai macam penumpang, ada yang tidak beradab, ada yang main pukul, juga ada yang berbuat onar tanpa alas an, tapi kami tidak pernah menjumpai orang yang berlutut kepada kami, terus terang kami juga tidak melakukan hal yang khusus kepadanya, hanya menuangkan air agak sering untuk beliau, hal ini telah membuat seseorang yang telah berumur 70 tahun lebih berlutut untuk berterima kasih kepada kami, lagi pula melihat dia memanggul satu karung ketela merah kering, dia sendiri rela tidak makan dan menahan lapar demi membawakan anaknya nasi yang dibagikan di pesawat, juga tidak mau menerima nasi jatah milik orang lain yang bukan menjadi miliknya, tidak serakah, saya sungguh merasakan penyesalan yang amat mendalam, lain kali saya harus bisa belajar berterima kasih, belajar membalas budi orang lain.

Adalah paman tua ini yang telah mengajarkan kepada saya, bagaimana saya harus hidup dengan penuh kebajikan dan kejujuran. (The Epoch Times)



Sumber: Maskolis


Chen Shu-Chu,  Si Tukang Sayur Dermawan
Teras Berita - Chen Shu-Chu, Wanita istimewa Si tukang sayur dermawan ini memilih hidup tanpa kemewahan demi membantu mereka yang kurang beruntung.

Setelah pagi yang hiruk-pikuk, suasana Central Market di Taitung County terasa senyap ketika kios-kios tutup untuk hari itu dan para pemilik pulang ke rumah yang nyaman. Namun satu lampu tetap menyala di sebuah kios sayuran.

Dengan kepala tertunduk, Chen Shu-Chu memilah-milah sayuran sambil menunggu pelanggan siang hari yang sesekali datang. Kerja keras selama beberapa puluh tahun membuat jari-jari tangan kanannya melengkung dan sendi-sendinya bengkak; bentuk kakinya juga sedikit berubah.

Chen menjalani hidup dengan rutinitas harian – bangun pukul tiga pagi, berangkat ke pedagang sayur kulakan, menyiapkan kiosnya dan berjualan sayur di sana sampai pukul tujuh atau delapan malam. Sebagai yang pertama tiba dan yang terakhir pergi, pemilik kios lain dengan penuh sayang menjuluki dia ‘pimpinan pasar’ atau ‘manajer pasar.’

Di dalam pasar yang gelap dan lembap, Chen, hampir 60 tahun, mengurus kios yang diwariskan sang ayah. Bagi Chen, “Yuan-Jin Vegetables” adalah segalanya. Dengan sayuran yang dia jual 'seikat NT$30 (sekitar Rp. 9.000), tiga ikat NT$50 (Rp. 15.000),' keuntungan Chen tidak besar. Namun hidup hemat memungkinkan dia menyumbang uang sebesar NT$10.000.000 (nyaris tiga miliar rupiah) untuk berbagai program amal, termasuk menyokong sekolah, panti asuhan dan anak-anak miskin.

Kemurahan hati yang tidak mementingkan diri sendiri dari wanita berpenghasilan kecil itu telah menempatkan dia di bawah sorotan internasional.

Pada Maret 2010, majalah Forbes menyebut dia sebagai salah satu dari 48 dermawan luar biasa dari wilayah Asia Pasifik. Sebulan kemudian, majalah Time memilih 100 orang paling berpengaruh di 2010, dan Chen masuk dalam kategori “Pahlawan Kedermawanan.” Ang Lee, sutradara pemenang Oscar yang juga sesama warga Taiwan, membuat tulisan perkenalan secara pribadi. “Uang hanya berharga jika diberikan kepada mereka yang membutuhkan,” dia mengutip Chen. Sang sutradara juga menulis, “Luar biasa, tetapi dari semua yang dia berikan, talenta terbesarnya adalah memberi teladan.”

Meski menerima penghargaan dari Time di New York, memperoleh pengakuan global dan bertemu Presiden Ma Ying-jeou, yang sesungguhnya dipedulikan Chen adalah kios sayurannya. Jika bukan karena Presiden Ma dan menteri luar negeri yang secara pribadi membujuk dia untuk pergi, dia tidak akan pernah setuju untuk mengunjungi New York karena merasa, “Ini bukan kompetisi dan saya tidak mau memenangkan apa-apa.” Di tengah kesibukan membuat paspor dan mempersiapkan keberangkatan, kekhawatiran utama Chen adalah para langganannya tidak akan bisa mendapat sayuran mereka.

Chen menjadi selebriti di Taitung County. Pemerintah daerah menghiasi kiosnya dengan poster dan spanduk ucapan selamat yang menyanjung dia sebagai “Kebanggaan Taitung” dan “Teladan Kedermawanan.” Bahkan ada ‘penggemar’ yang muncul di kiosnya dengan membawa keranjang sayur dan kamera, berharap untuk memotret Chen.

Meski mendapat banyak perhatian, Chen tetap rendah hati. “Saya tidak melakukan apa-apa yang luar biasa, dan semua orang yang mau, bisa melakukannya. Ada banyak orang yang suka beramal – kita tidak tahu saja tentang mereka,” katanya.

Chen, yang tidak menikah, menambahkan, “Saya tidak menempatkan kepentingan besar pada uang. Ketika saya menyumbang untuk membantu orang lain, saya merasa damai dan bahagia, dan saya bisa tidur nyenyak di malam hari.” Dia juga bersimpati kepada kaum miskin karena dia sendiri hidup sulit di masa muda.

Lahir pada 1950, Chen kehilangan ibunya setelah menyelesaikan sekolah dasar. Ibunya dilarikan ke rumah sakit karena kesulitan melahirkan dan keluarganya harus membayar asuransi sebesar NT$5.000 (1,5 juta rupiah) sebelum perhatian medis dapat diberikan. Chen menyaksikan ayahnya meminta uang kepada tetangga-tetangga mereka, tetapi ibunya terlambat diselamatkan. Sebagai putri sulung di keluarga, Chen harus tumbuh dewasa dalam semalam. Dia meninggalkan pendidikannya dan mengabdikan hidupnya untuk membantu berjualan sayuran.

Ketika berusia 18, adik lelakinya jatuh sakit yang terus berlarut-larut sampai lebih dari setahun, perlahan menguras tabungan keluarga. Para dokter menyarankan keluarganya mengirim sang adik ke Taiwan National University Hospital, tetapi bagaimana mereka bisa membayar biayanya? Huang Shun-zhong, guru di Ren-ai Primary School, membuka donasi untuk keluarga Chen. Sayang, adiknya tidak dapat diselamatkan.

Setelah mengalami kebaikan hati berupa donasi bagi keluarganya, Chen memutuskan untuk membantu kaum miskin begitu dia sanggup. Ketika ayahnya meninggal dunia 17 tahun lalu, Chen, penganut Buddha yang taat, mendermakan uang sebesar NT$1.000.000 (nyaris Rp. 300 juta rupiah) ke Fo Guang Shan Monastery.

Chen Shu-Chu,  Si Tukang Sayur Dermawan
Pada 2000, dia menyumbangkan jumlah yang sama besarnya kepada almamaternya, Ren-ai Primary School, untuk mendirikan “Emergency Relief Fund” yang membantu anak-anak miskin memperoleh bantuan finansial.

Pendamping dari pembangunan dan pemeliharaan badan amal tersebut adalah Li Guo-rong, yang mengajar keponakan lelaki Chen. Pada 2001, Li punya rencana untuk membangun perpustakaan di sekolah tersebut dan memperkirakan biayanya antara NT$4.000.000 sampai NT$5.000.000 (sekitar satu miliar rupiah). Ketika ia mendekati Chen, dengan harapan wanita itu akan menyumbang NT$50.000 (Rp. 15 juta rupiah), Li terkejut saat Chen berkata, dia akan mendanai seluruh proyek.

Sementara pihak sekolah merasa skeptis, Chen merasa yakin. Pada Mei 2005, perpustakaan dua lantai tersebut selesai dibangun dan dinamai “Perpustakaan Chen Shu-Chu” untuk menghormati alumnus sekaligus “Pahlawan dari Pasar Sayur.” Dia telah mendonasikan NT$4.500.000 (1,3 miliar rupiah).

Kemampuan Chen untuk mendermakan uang dalam jumlah besar membuat banyak orang bertanya-tanya, “Kok, bisa seorang tukang sayuran menghasilkan uang sebanyak itu?”

“Pakai yang Anda butuhkan saja, dan Anda akan bisa menyisihkan begitu banyak uang!” ujar Chen. Sejak 1996, dia telah mendonasikan NT$36.000 (Rp10.750.000) untuk membantu tiga anak di organisasi Kidsalive International. Untuk mewujudkan itu, Chen menjelaskan bahwa dia memindahkan seluruh uang koinnya ke tiga kotak kardus kecil di rumah setiap malam. “Ini tindakan sederhana yang bisa dilakukan semua orang, kan?” tanya Chen.

Chen menjalani hidup yang amat sederhana, tanpa sedikit pun kemewahan. Dia tidak berminat kepada materi maupun bentuk kenikmatan apa pun. Bekerja, katanya, adalah kenikmatannya. “Saya cinta pekerjaan saya. Jika tidak, mana mungkin saya sanggup bekerja 16 jam sehari?” tuturnya.

Yang dibutuhkan Chen hanyalah makanan dan tempat untuk tidur. Semua hal lain di luar itu adalah kemewahan. Dia tidak membeli baju-baju mahal karena, “Saya tidak banyak bersosialisasi, maka tidak ada kebutuhan akan pakaian indah. Baju dari kios pinggir jalan sudah cukup baik untuk saya, dan bahkan di situ, saya suka menawar.”

Makanannya sehari-hari hanya butuh sedikit uang, yaitu untuk semangkuk nasi vegetarian dan semangkuk mi seharga NT$55 (Rp16.000). Bekukan apa pun yang tidak habis, keluarkan lagi uang sebesar NT$20 (Rp5.900) untuk sekaleng gluten dan tambahkan ke nasi dengan sedikit air panas. “Jadilah bubur yang rasanya amat enak,” kata Chen.

Dia juga tidur di atas lantai, kebiasaan dari masa muda ketika mulai bekerja di kios sayur. Kenyamanan ranjang yang hangat membuatnya sulit bangun pagi untuk berangkat ke pedagang kulakan, terutama selama bulan-bulan musim dingin. Karena itu, Chen memutuskan untuk tidur di lantai yang dingin, tempat dia tak akan berisiko terlambat.

Jadi, apakah bisnisnya meningkat setelah memenangkan penghargaan? “Berjalan seperti biasa,” ujar Chen. “Saya masih perlu menjual sayur-mayur saya, tidak banyak yang berubah.” Para pembuat iklan mendekati dia untuk membuat iklan, manajer-manajer keuangan menawarkan untuk mengelola keuangannya dan sejumlah pihak berniat baik menawarkan sumbangan uang untuk dia. Chen menolak semua tawaran itu dengan sopan. “Mengembalikan pinjaman uang itu mudah, tetapi mengembalikan kebaikan itu sulit,” kata Chen.

“Saya harus amat berhati-hati dalam menangani persoalan uang,” tambah Chen. Bahkan ketika pelanggan memberi tip, dia tidak mau menerima. “Membeli dari kios saya sudah merupakan bentuk dukungan,” dia menjelaskan.

Satu-satunya iklan yang pernah Chen terima adalah untuk Bureau of National Health Insurance dalam kenangan atas bundanya tercinta. Chen meminta seluruh pengambilan gambar dilakukan di dekat kiosnya sehingga tidak mengganggu bisnisnya. Pembayaran yang mau dia terima dari biro tersebut hanya sehelai kaos warna hitam.

Sejak pulang dari New York, Chen bekerja semakin keras. Dia punya tujuan baru: mengumpulkan NT$10.000.000 (Rp2,9 miliar) untuk mendirikan “Chen Shu-Chu Bursary” atau “Beasiswa Chen Shu-Chu” yang ditujukan untuk membantu anak-anak miskin membayar biaya sekolah dan tagihan medis, hal-hal yang tidak sanggup dia dapatkan ketika masih kecil.

“Yang saya butuhkan hanyalah menjual sayur sedikit lebih banyak dan menyisihkan uang sedikit lebih banyak, selain membayar sejumlah polis asuransi yang mendekati akhir periode. Banyak orang juga bersedia menyumbang. Saya yakin, tak akan ada masalah,” kata Chen dengan yakin.

Li, yang menganggap Chen sebagai kakak, berkata bahwa mendirikan badan beasiswa sesungguhnya merupakan cara yang bagus untuk membiarkan Chen pensiun dari menjual sayuran dan mulai menggunakan reputasinya untuk memengaruhi masyarakat. Harapannya, akan muncul lebih banyak “Chen Shu-Chu” yang dermawan.

“Filosofi hidup saya sederhana: Jika melakukan sesuatu membuat Anda cemas, maka itu pasti hal yang salah. Jika itu membuat Anda bahagia, maka Anda pasti telah melakukan hal yang benar. Apa yang dikatakan orang lain tidak penting,” kata Chen. Dia puas dengan apa yang dia miliki, dan merasa selama dia menjalani hidup yang dia harapkan, melakukan hal-hal yang dia inginkan, itu sudah cukup baik.



(Gao Ruo Wu; Foto Marc Gerritsen)

Sumber


Kisah nyata ini terjadi pada tahun 2005 seorang gadis kecil di China yang menderita penyakit leukemia ganas, tetapi mempunyai hati bak seorang malaikat. Setelah mengetahui penyakitnya tidak dapat disembuhkan lagi, ia rela melepaskan semuanya dan menyumbangkan untuk anak-anak lain yang masih punya harapan serta masa depan.

Kisah Nyata, Yu Yuan Gadis Kecil Berhati Malaikat
Sebuah kisah nyata tentang seorang gadis kecil yang cantik yang memiliki sepasang bola mata yang indah dan hati yang lugu polos. Dia adalah seorang yatim piatu dan hanya sempat hidup di dunia ini selama delapan tahun. Satu kalimat terakhir yang ia tinggalkan di batu nisannya adalah “Saya pernah datang dan saya sangat penurut”. Anak ini rela melepasakan pengobatan, padahal sebelumnya dia telah memiliki dana pengobatan sebanyak 540.000 dolar yang didapat dari perkumpulan orang Chinese seluruh dunia.

Dia membagi dana tersebut menjadi tujuh, yang dibagikan kepada tujuh anak kecil yang juga sedang berjuang menghadapi kematian. Dan dia rela melepaskan pengobatannya. Begitu lahir dia sudah tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya. Dia hanya memiliki seorang papa yang mengadopsinya. Papanya berumur 30 tahun yang bertempat tinggal di provinsi She Cuan kecamatan Suang Liu, kota Sang Xin Zhen Yun Ya Chun Er Cu. Karena miskin, maka selama ini ia tidak menemukan pasangan hidupnya.

Kalau masih harus mengadopsi anak kecil ini, mungkin tidak ada lagi orang yang mau dilamar olehnya. Pada tanggal 30 November 1996, tgl 20 bln 10 imlek, adalah saat dimana papanya menemukan anak kecil tersebut diatas hamparan rumput, disanalah papanya menemukan seorang bayi kecil yang sedang kedinginan. Pada saat menemukan anak ini, di dadanya terdapat selembar kartu kecil tertulis, 20 November jam 12. Melihat anak kecil ini menangis dengan suara tangisannya sudah mulai melemah. Papanya berpikir kalau tidak ada orang yang memperhatikannya, maka kapan saja bayi ini bisa meninggal.

Dengan berat hati papanya memeluk bayi tersebut, dengan menghela nafas dan berkata, “Saya makan apa, maka kamu juga ikut apa yang saya makan”. Kemudian, papanya memberikan dia nama Yu Yan. Ini adalah kisah seorang pemuda yang belum menikah yang membesarkan seorang anak, tidak ada Asi dan juga tidak mampu membeli susu bubuk, hanya mampu memberi makan bayi tersebut dengan air tajin (air beras). Maka dari kecil anak ini tumbuh menjadi lemah dan sakit-sakitan. Tetapi anak ini sangat penurut dan sangat patuh.
Musim silih berganti, Yu Yuan pun tumbuh dan bertambah besar serta memiliki kepintaran yang luar biasa. Para tetangga sering memuji Yu Yuan sangat pintar, walaupun dari kecil sering sakit-sakitan dan mereka sangat menyukai Yu Yuan. Ditengah ketakutan dan kecemasan papanya, Yu Yuan pelan-pelan tumbuh dewasa. Yu Yuan yang hidup dalam kesusahan memang luar biasa, mulai dari umur lima tahun, dia sudah membantu papa mengerjakan pekerjaan rumah. Mencuci baju, memasak nasi dan memotong rumput. Setiap hal dia kerjakan dengan baik. Dia sadar dia berbeda dengan anak-anak lain.

Anak-anak lain memiliki sepasang orang tua, sedangkan dia hanya memiliki seorang papa. Keluarga ini hanya mengandalkan dia dan papa yang saling menopang. Dia harus menjadi seorang anak yang penurut dan tidak boleh membuat papa menjadi sedih dan marah. Pada saat dia masuk sekolah dasar, dia sendiri sudah sangat mengerti, harus giat belajar dan menjadi juara di sekolah. Inilah yang bisa membuat papanya yang tidak berpendidikan menjadi bangga di desanya. Dia tidak pernah mengecewakan papanya, dia pun bernyanyi untuk papanya. Setiap hal yang lucu yang terjadi di sekolahnya di ceritakan kepada papanya. Kadang-kadang dia bisa nakal dengan mengeluarkan soal-soal yang susah untuk menguji papanya. Setiap kali melihat senyuman papanya, dia merasa puas dan bahagia.

Walaupun tidak seperti anak-anak lain yang memiliki mama, tetapi bisa hidup bahagia dengan papa, ia sudah sangat berbahagia. Mulai dari bulan Mei 2005 Yu Yuan mulai mengalami mimisan. Pada suatu pagi saat Yu Yuan sedang mencuci muka, ia menyadari bahwa air cuci mukanya sudah penuh dengan darah yang ternyata berasal dari hidungnya. Dengan berbagai cara tidak bisa menghentikan pendarahan tersebut. Sehingga papanya membawa Yu Yuan ke puskesmas desa untuk disuntik. Tetapi sayangnya dari bekas suntikan itu juga mengeluarkan darah dan tidak mau berhenti. Dipahanya mulai bermunculan bintik-bintik merah. Dokter tersebut menyarankan papanya untuk membawa Yu Yuan ke rumah sakit untuk diperiksa.

Begitu tiba di rumah sakit, Yu Yuan tidak mendapatkan nomor karena antrian sudah panjang. Yu Yuan hanya bisa duduk sendiri dikursi yang panjang untuk menutupi hidungnya. Darah yang keluar dari hidungnya bagaikan air yang terus mengalir dan memerahi lantai. Karena papanya merasa tidak enak kemudian mengambil sebuah baskom kecil untuk menampung darah yang keluar dari hidung Yu Yuan. Tidak sampai sepuluh menit, baskom yang kecil tersebut sudah penuh berisi darah yang keluar dari hidung Yu Yuan. Dokter yang melihat keadaaan ini cepat-cepat membawa Yu Yuan untuk diperiksa. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa Yu Yuan terkena Leukimia ganas. Pengobatan penyakit tersebut sangat mahal yang memerlukan biaya sebesar 300.000 $. Papanya mulai cemas melihat anaknya yang terbaring lemah di ranjang. Papanya hanya memiliki satu niat yaitu menyelamatkan anaknya.

Dengan berbagai cara meminjam uang ke sanak saudara dan teman dan ternyata, uang yang terkumpul sangatlah sedikit. Papanya akhirnya mengambil keputusan untuk menjual rumahnya yang merupakan harta satu satunya. Tapi karena rumahnya terlalu kumuh, dalam waktu yang singkat tidak bisa menemukan seorang pembeli. Melihat mata papanya yang sedih dan pipi yang kian hari kian kurus. Dalam hati Yu Yuan merasa sedih.

Pada suatu hari Yu Yuan menarik tangan papanya, air mata pun mengalir dikala kata-kata belum sempat terlontar. “Papa saya ingin mati”. Papanya dengan pandangan yang kaget melihat Yu Yuan, “Kamu baru berumur 8 tahun kenapa mau mati”. “Saya adalah anak yang dipungut, semua orang berkata nyawa saya tak berharga, tidaklah cocok dengan penyakit ini, biarlah saya keluar dari rumah sakit ini.”

Pada tanggal 18 juni, Yu Yuan mewakili papanya yang tidak mengenal huruf, menandatangani surat keterangan pelepasan perawatan. Anak yang berumur delapan tahun itu pun mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pemakamannya sendiri. Hari itu juga setelah pulang kerumah, Yu Yuan yang sejak kecil tidak pernah memiliki permintaan, hari itu meminta dua permohonan kepada papanya. Dia ingin memakai baju baru dan berfoto. Yu Yuan berkata kepada papanya: “Setelah saya tidak ada, kalau papa merindukan saya lihatlah melihat foto ini”.

Hari kedua, papanya menyuruh bibi menemani Yu Yuan pergi ke kota dan membeli baju baru. Yu Yuan sendirilah yang memilih baju yang dibelinya. Bibinya memilihkan satu rok yang berwarna putih dengan corak bintik-bintik merah. Begitu mencoba dan tidak rela melepaskannya. Kemudian mereka bertiga tiba di sebuah studio foto. Yu Yuan kemudia memakai baju barunya dengan pose secantik mungkin berjuang untuk tersenyum. Bagaimanapun ia berusaha tersenyum, pada akhirnya juga tidak bisa menahan air matanya yang mengalir keluar. Kalau bukan karena seorang wartawan Chuan Yuan yang bekerja di surat kabar Cheng Du Wan Bao, Yu Yuan akan seperti selembar daun yang lepas dari pohon dan hilang ditiup angin.

Setelah mengetahui keadaan Yu Yuan dari rumah sakit, Chuan Yuan kemudian menuliskan sebuah laporan, menceritakan kisah Yu Yuan secara detail. Cerita tentang anak yg berumur 8 tahun mengatur pemakamannya sendiri dan akhirnya menyebar keseluruh kota Rong Cheng. Banyak orang-orang yang tergugah oleh seorang anak kecil yang sakit ini, dari ibu kota sampai satu negara bahkan sampai ke seluruh dunia. Mereka mengirim email ke seluruh dunia untuk menggalang dana bagi anak ini.

Dunia yang damai ini menjadi suara panggilan yang sangat kuat bagi setiap orang. Hanya dalam waktu sepuluh hari, dari perkumpulan orang Chinese didunia saja telah mengumpulkan 560.000 dolar. Biaya operasi pun telah tercukupi. Titik kehidupan Yu Yuan sekali lagi dihidupkan oleh cinta kasih semua orang. Setelah itu, pengumuman penggalangan dana dihentikan, tetapi dana terus mengalir dari seluruh dunia. Dana pun telah tersedia dan para dokter sudah ada untuk mengobati Yu Yuan. Satu demi satu gerbang kesulitan pengobatan juga telah dilewati. Semua orang menunggu hari suksesnya Yu Yuan.


Ada seorang teman di-email bahkan menulis: Yu Yuan anakku yang tercinta saya mengharapkan kesembuhanmu dan keluar dari rumah sakit. Saya mendoakanmu cepat kembali ke sekolah. Saya mendambakanmu bisa tumbuh besar dan sehat. Yu Yuan anakku tercinta. Pada tanggal 21 Juni, Yu Yuan yang telah melepaskan pengobatan dan menunggu kematian akhirnya dibawa kembali ke ibu kota. Dana yang sudah terkumpul, membuat jiwa yang lemah ini memiliki harapan dan alasan untuk terus bertahan hidup. Yu Yuan akhirnya menerima pengobatan dan dia sangat menderita didalam sebuah pintu kaca tempat dia berobat. Yu Yuan kemudian berbaring di ranjang untuk diinfus. Ketegaran anak kecil ini membuat semua orang kagum padanya. Dokter yang menangani dia, Shii Min berkata, dalam perjalanan proses terapi akan mendatangkan mual yang sangat hebat.

Pada permulaan terapi Yu Yuan sering sekali muntah. Tetapi Yu Yuan tidak pernah mengeluh. Pada saat pertama kali melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang, jarum suntik ditusukkan dari depan dadanya, tetapi Yu Yuan tidak menangis dan juga tidak berteriak, bahkan tidak meneteskan air mata. Yu yuan yang dari dari lahir sampai maut menjemput tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu. Pada saat dokter Shii Min menawarkan Yu Yuan untuk menjadi anak perempuannya. Air mata Yu Yuan pun mengalir tak terbendung.

Hari kedua saat dokter Shii Min datang, Yu Yuan dengan malu-malu memanggil dengan sebutan Shii Mama. Pertama kalinya mendengar suara itu, Shii Min kaget, dan kemudian dengan tersenyum dan menjawab, “Anak yang baik”. Semua orang mendambakan sebuah keajaiban dan menunggu momen dimana Yu Yuan hidup dan sembuh kembali. Banyak masyarakat datang untuk menjenguk Yu Yuan dan banyak orang menanyakan kabar Yu Yuan dari email.

Selama dua bulan Yu Yuan melakukan terapi dan telah berjuang menerobos sembilan pintu maut. Pernah mengalami pendarahan dipencernaan dan selalu selamat dari bencana. Sampai akhirnya darah putih dari tubuh Yu Yuan sudah bisa terkontrol. Semua orang-orang pun menunggu kabar baik dari kesembuhan Yu Yuan. Tetapi efek samping yang dikeluarkan oleh obat-obat terapi sangatlah menakutkan, apalagi dibandingkan dengan anak-anak leukemia yang lain. Fisik Yu Yuan jauh sangat lemah.

Setelah melewati operasi tersebut fisik Yu Yuan semakin lemah. Pada tanggal 20 agustus, Yu Yuan bertanya kepada wartawan Fu Yuan: “Tante kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya? Tanya Yu Yuan kepada wartawan tersebut. Wartawan tersebut menjawab, karena mereka semua adalah orang yang baik hati”. Yu Yuan kemudia berkata : “Tante saya juga mau menjadi orang yang baik hati”. Wartawan itupun menjawab, “Kamu memang orang yang baik. Orang baik harus saling membantu agar bisa berubah menjadi semakin baik”. Yu yuan dari bawah bantal tidurnya mengambil sebuah buku, dan diberikan kepada ke Fu Yuan. “Tante ini adalah surat wasiat saya.”

Fu Yuan kaget, sekali membuka dan melihat surat tersebut ternyata Yu Yuan telah mengatur tentang pengaturan pemakamannya sendiri.

Ini adalah seorang anak yang berumur delapan tahun yang sedang menghadapi sebuah kematian dan diatas ranjang menulis tiga halaman surat wasiat dan dibagi menjadi enam bagian, dengan pembukaan, tante Fu Yuan, dan diakhiri dengan selamat tinggal tante Fu Yuan. Dalam satu artikel itu nama Fu Yuan muncul tujuh kali dan masih ada sembilan sebutan singkat tante wartawan. Dibelakang ada enam belas sebutan dan ini adalah kata setelah Yu Yuan meninggal. Tolong.... dan dia juga ingin menyatakan terima kasih serta selamat tinggal kepada orang-orang yang selama ini telah memperhatikan dia lewat surat kabar.

“Sampai jumpa tante, kita berjumpa lagi dalam mimpi. Tolong jaga papa saya. Dan sedikit dari dana pengobatan ini bisa dibagikan kepada sekolah saya. Dan katakan ini juga pada pemimpin palang merah. Setelah saya meninggal, biaya pengobatan itu dibagikan kepada orang-orang yang sakit seperti saya. Biar mereka lekas sembuh”.

Surat wasiat ini membuat Fu Yuan tidak bisa menahan tangis yang membasahi pipinya. Saya pernah datang, saya sangat patuh, demikianlah kata-kata yang keluar dari bibir Yu Yuan. Pada tanggal 22 agustus, karena pendarahan dipencernaan hampir satu bulan, Yu Yuan tidak bisa makan dan hanya bisa mengandalkan infus untuk bertahan hidup. Mula mulanya berusaha mencuri makan, Yu Yuan mengambil mie instant dan memakannya. Hal ini membuat pendarahan di pencernaan Yu Yuan semakin parah. Dokter dan perawat pun secepatnya memberikan pertolongan darurat dan memberi infus dan transfer darah setelah melihat pendarahan Yu Yuan yang sangat hebat. Dokter dan para perawat pun ikut menangis. Semua orang ingin membantu meringankan pederitaannya. Tetapi tetap tidak bisa membantunya.

Yu Yuan yang telah menderita karena penyakit tersebut akhirnya meninggal dengan tenang. Semua orang tidak bisa menerima kenyataan ini melihat malaikat kecil yang cantik yang suci bagaikan air. Sungguh telah pergi kedunia lain.

Di kecamatan She Chuan, sebuah email pun dipenuhi tangisan menghantar kepergian Yu Yuan. Banyak yang mengirimkan ucapan turut berduka cita dengan karangan bunga yang ditumpuk setinggi gunung. Ada seorang pemuda berkata dengan pelan “Anak kecil, kamu sebenarnya adalah malaikat kecil diatas langit, kepakanlah kedua sayapmu. Terbanglah……………” demikian kata-kata dari seorang pemuda tersebut.

Pada tanggal 26 Agustus, pemakaman Yu Yuan dilaksanakan saat hujan gerimis. Didepan rumah duka, banyak orang-orang berdiri dan menangis mengantar kepergian Yu Yuan. Mereka adalah papa-mama Yu Yuan yang tidak dikenal oleh Yu Yuan semasa hidupnya. Demi Yu Yuan yang menderita karena leukemia dan melepaskan pengobatan demi orang lain, maka datanglah papa mama dari berbagai daerah yang diam-diam mengantarkan kepergian Yu Yuan.


Kisah Nyata, Yu Yuan Gadis Kecil Berhati Malaikat
Di depan kuburannya terdapat selembar foto Yu Yuan yang sedang tertawa. Diatas batu nisannya tertulis, “Aku pernah datang dan aku sangat patuh” (30 nov 1996- 22 agus 2005). Dan dibelakangnya terukir perjalanan singkat riwayat hidup Yu Yuan. Dua kalimat terakhir adalah disaat dia masih hidup telah menerima kehangatan dari dunia.

Beristirahatlah gadis kecilku, nirwana akan menjadi lebih ceria dengan adanya dirimu. Sesuai pesan dari Yu Yuan, sisa dana 540.000 dolar tersebut disumbangkan kepada anak-anak penderita luekimia lainnya. Tujuh anak yang menerima bantuan dana Yu Yuan itu adalah : Shii Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Jie, Gao Jian, Wang Jie. Tujuh anak kecil yang kasihan ini semua berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka adalah anak-anak miskin yang berjuang melawan kematian.

Pada tanggal 24 September, anak pertama yang menerima bantuan dari Yu Yuan di rumah sakit Hua Xi berhasil melakukan operasi. Senyuman yang mengambang pun terlukis diraut wajah anak tersebut. “Saya telah menerima bantuan dari kehidupan Anda, terima kasih adik Yu Yuan, kamu pasti sedang melihat kami diatas sana. Jangan risau, kelak di batu nisan, kami juga akan mengukirnya dengan kata-kata “Aku pernah datang dan aku sangat patuh”.

Sumber:  | http://maskolis.blogspot.com

Ibu Ini Melahirkan Bayi di Tengah Jalan
Disaksikan Banyak Orang, Persalinan Darurat itu
Berjalan Sukses
Teras Berita - Melahirkan seorang bayi adalah anugerah dan momentum paling bersejarah dalam kehidupan seorang wanita.

Tapi, siapa sangka kalau momentum bersejarah itu harus terjadi di sebuah tempat yang tak layak untuk melahirkan.
Itulah yang dialami seorang ibu di Guangzhou, ibukota Propinsi Guangdong, China, yang harus melahirkan bayinya di tengah trotoar dengan disaksikan masyarakat umum, pada Jumat (13/07) lalu.

Dilansir dari Dailymail, peristiwa itu terjadi saat wanita itu ditemani suaminya dalam perjalanan menuju ke ke rumah sakit.

Mendadak, wanita itu merasakan mules yang luar biasa di perutnya dan sudah tidak tahan lagi, karena sang jabang bayi sudah ingin keluar dari rahim ibunya.

Karena panik sementara rumah sakit yang dituju masih lumayan jauh, sang suami lari mencari bantuan ke klinik medis terdekat.

Sial! Klinik terdekat itu ternyata sebuah klinik gigi yang tak bisa melayani persalinan.

Tak kenal menyerah, suami dibantu masyarakat sekitar akhirnya membantu proses persalinan darurat itu di tengah trotoar.

Si suami mengkomandoi istrinya untuk melakukan proses persalinan dan akhirnya sang jabang bayi itu terlahir ke dunia.

Seketika itu, ibunya langsung lemas dan tak lama kemudian keduanya dibantu warga sekitar mengantar ibu dan bayinya ke rumah sakit.

Seorang saksi mata dikutip Dailymail menyebut, “Wanita tidak dapat menahan bayinya sehingga suaminya meletakkan mantel dan beberapa lembar yang disediakan warga dan melakukan apa yang seharus dilakukan. Luar biasa dan bayinya selamat”.



Sumber

Suami berlutut minta maaf isteri
Teras Berita - Seorang laki-laki di Hangzhou terpaksa berlutut selama berjam-jam di luar apartemennya karena tak diizinkan masuk oleh istrinya. Alasannya sederhana, si suami tak memberikan gajinya tepat waktu.

LakI-laki yang diidentifikasi bernama Wang, ini tak memakai baju. Dia mengalungkan selembar karton putih bertuliskan “Maaf sayang, aku salah. Mulai sekarang aku akan memberikan gajiku tepat waktu.”

Ternyata, Wang bukan untuk pertama kali ini melakukan permohonan seperti ini. Ia bahkan sering "dihukum" oleh sang istri. Mulai dari hukuman biasa sampai yang termasuk ekstrim seperti berlutut di atas keyboard komputer di atas meja. Namun demikian, Wang mengaku hubungan rumah tangga mereka tidak pernah benar-benar retak karena dia menjalani tiap "hukuman" dengan berbesar hati.

"Meskipun kami sering bertengkar, hubungan kami tidak begitu buruk, kok. Kami tetap saling mencintai,” katanya seperti dilansir shanghaiist.com yang dikutip dari Xinhua.

Apakah Wang selalu bisa menerima perlakuan istrinya. Ternyata tidak juga. Sesekali, pengakuannya, ia mengeluh juga.

“Ia selalu mengendalikanku. Kalau berlutut itu, sudah sebenarnya (sudah menjadi) hukuman standar untukku. Sama sekali tidak luar biasa,” sebutnya.

Wang bertemu dengan istrinya di tahun 2011. Setelah berpacaran singkat, mereka memutuskan untuk menikah. Sejauh ini keduanya belum dikaruniai anak.

Terkait hukuman terakhir, setelah menikah, istrinya (yang tidak disebutkan namanya) memang mengharuskan Wang untuk memberi seluruh gajinya di akhir bulan agar ia bisa membeli kebutuhan keluarganya.

"Tapi jika ia tak mengijinkanku masuk ke rumah, aku akan tetap berlutut di sini. Sambil berteriak ‘Maaf, sayang’. Bahkan sampai ribuan kali pun akan kulakukan,” katanya.


Sumber Tribunnews

Truk Tinja Meledak, Toko dan Pembeli Jadi Bau
Teras Berita - Apa jadinya kalau kotoran atau tinja dalam jumlah banyak berceceran ditoko saat banyak pembeli. Seperti yang terjadi di China Kecelakaan tragis sekaligus mengenaskan, sebuah truk tangki penyedot tinja tiba-tiba meledak hingga isi dalam truk keluar dan menyembur ke jalanan serta toko.

Dilansir dari situs Dailymail, Rabu, 31 Desember 2014, apesnya, di sekitar toko tersebut juga terdapat para pembeli. Alhasil beberapa orang terkena kotoran tinja berwarna cokelat pada bagian tubuh dan muka.
Seorang saksi mata, Dong Tang, mengatakan awalnya dia berpikir banyak orang berkumpul di lokasi kejadian karena telah terjadi kecelakaan mobil.

"Saya tidak terlalu memperhatikan, tapi beberapa saat kemudian bau busuk menyengat dan itu sangat menjijikkan. Lalu saya menyadari bahwa tangki yang membawa 'cairan cokelat' telah meledak, berhamburan ke seluruh jalan dan mengenai orang-orang yang berbelanja atau berjalan melewati,” kata Dong Tang.
Sementara menurut pemilik toko, untuk membersihkan barang dagangannya dari kotoran tinja, dibutuhkan waktu lebih dari seminggu. Hal ini dikarenakan kotoran yang keluar jumlahnya cukup banyak dan juga tebal.
Akibat hal tersebut, para pemilik toko langsung meminta kompensasi kepada pemilik truk yang meledak.
Akan tetapi, juru bicara perusahaan penyedot tinja mengatakan, ledakan tersebut disebabkan kesalahan teknis dari kendaraan.

Oleh karena itu, dia menyatakan, seharusnya pihak yang dirugikan harus menuntut ganti rugi kepada produsen mobil.

Saling tuding pun terjadi. Produsen mobil menyatakan bahwa kesalahan pada mobil terjadi karena buruknya sistem pemeliharaan mobil dan tidak mengikuti petunjuk pengoperasian.

Juru bicara kepolisian setempat, Cai Chin menyatakan, tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Akan tetapi kebanyakan korban menderita kerugian material karena baik dagangan dan tubuh mereka terkena langsung cairan kotoran.


“Banyak dari mereka yang harus mendapatkan perhatian medis. Ini dikarenakan banyaknya bahan kimia yang digunakan dalam proses pembersihan, atau memang penyakit yang timbul dari kotoran itu sendiri,” ucap Cai Chin.


Sumber Viva.co.id

Menjual Anaknya untuk Biaya Pengobatan Suami
Warga di Distrik Fuzhou Gulou Senin (15/12/2014) kemarin mendadak dihebohkan seorang perempuan yang membawa serta anak kecil berdiri di pinggir jalan sambil membawa poster yang bertuliskan tawaran bagi siapapun yang berminat untuk membeli anaknya! Ternyata perempuan ini ingin menjual anaknya, agar bisa membiayai pengobatan suaminya yang tengah tergolek lemah akibat sakit.


Menjual Anaknya untuk Biaya Pengobatan Suami
Perempuan lusuh itu menangis sambil memperlihatkan poster yang bertuliskan "Atasan suami saya melarikan diri setelah kecelakaan kerja, kami tidak memiliki uang untuk mengobatinya. Aku bersedia menjual anak saya demi menyelematkan ayahnya,"

Sementara itu anak-anaknya yang tidak memahami keadaan, hanya diam di samping ibunya, dan anaknya yang paling kecil, diam di gendongan punggung ibunya.

Tidak ada satupun dari kerumunan orang-orang yang mau merespon permintaan ibu penjual anak itu. Namun setelah tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi, mereka merasa iba, kemudian memberikan uang sumbangan.

Menjual Anaknya untuk Biaya Pengobatan Suami
Beberapa diantaranya berinisiatif untuk memanggil polisi lantaran perempuan itu terus menangis.
Berdasarkan laporan ThatsMags, perempuan ini diketahui bernama Ni Hong, sementara suaminya bernama Zhou Xinggui. keduanya merupakan pasangan suami istri yang berasal dari Chongqing.

Kamis pekan lalu, suaminya menderita patah tulang di sejumlah bagian tubuhnya akibat kecelakaan kerja di Ruoyang, Dahu, Minhou. Kesedihan bertambah dengan keadaan, atasannya yang kabuur dan hanya memberikan sedikit uang serta menolak bertanggung jawab.

Menjual Anaknya untuk Biaya Pengobatan Suami

"Kami harus mendapatkan uang dengan cara apapun supaya dia bisa dioperasi," ucapnya Ni Hong
Sejak saat itu, anak tertuanya, Dahua tak pernah bersekolah. Ibu ini hendak menjual anaknya yang paling kecil yang berusia belum genap satu tahun.


Sumber | Tribunnews

Demi anak rela jadi arung tinju jalanan
Demi pengobatan anaknya yang sakit, seorang ayah akan melakukan segala cara untuk mendapatkan biaya pengobatan demi kesembuhan buah hatinya.

Itupula yang dilakukan Xia Jun 30 tahun, seorang pria asal Sichuan, China. Begitu besar biaya yang harus ditanggung Xia Jun untuk pengobatan anaknya Guo Guo (2) yang divonis menderita leukemia. Meski sudah menjual rumahnya di kampung dan meminjam sejumlah uang, itu belum cukup untuk menutup biaya perawatan Guo Guo.

Pada bulan Oktober tahun lalu, Guo Guo didiagnosis sebuah rumah sakit di Provinsi Sichuan mengidap leukemia. Pihak rumah sakit menyarankan Xia Jun agar membawa putranya ke Beijing untuk mendapatkan perawatan lebih intensif.

Demi anak rela jadi arung tinju jalanan
Pada Juli lalu, Xia Jun, istri, dan ibu mertuanya membawa Guo Guo ke Beijing dan menemui tiga dokter berbeda. Para dokter itu menyarankan transplantasi sumsum tulang belakang untuk menyelamatkan Guo Guo.

Pada 17 November lalu, Guo Guo sudah menjalani transplantasi sumsum tulang belakang dan kini tengah menjalani masa pemulihan. Namun, biaya pengobatan bocah itu mencapai lebih dari 700.000 yuan atau sekitar Rp 1,4 miliar.

Demi anak rela jadi arung tinju jalanan
Akhirnya, Xia Jun nekat untuk mencari donasi dari warga Beijing. Dia kemudian berdiri di salah satu sudut kota Beijing, menaruh kotak sumbangan di depannya, berisi hasil diagnosis rumah sakit terkait kondisi Guo Guo.

Xia Jun juga menuliskan sederet kalimat di baju putihnya berbunyi, "Karung tinju manusia, satu pukulan 10 yuan". Artinya, Xia Jun menyediakan diri untuk dipukul siapa pun yang melintas asal setelah memukul orang itu memberi donasi 10 yuan atau sekitar Rp 20.000.

Ternyata, aksi Xia Jun itu menarik perhatian sekaligus menyentuh hati warga Beijing. Hampir setiap orang yang melintas memberikan donasi bagi pria itu. Bahkan, lewat aksi ini, Xia Jun mampu mengumpulkan 800.000 yuan, lebih dari cukup untuk membayar biaya pengobatan putra kecilnya.

Wang Jingbo, dokter yang merawat Guo Guo, mengatakan, meski sudah menjalani transplantasi sumsum tulang belakang, Guo Guo harus melalui masa kritis selama dua setengah tahun. Dalam masa itulah, Guo Guo akan mengalami tiga tahap penolakan, infeksi, dan kambuhnya penyakit.

Demi anak rela jadi arung tinju jalanan
"Namun, karena usianya yang masih sangat muda, tahun pertamalah yang paling menentukan. Pengobatan selanjutnya akan memakan biaya 400.000 yuan (hampir Rp 800 juta)," kata dr Wang.

"Masalah terbesar sudah teratasi. Saya merasa tidak enak jika harus terus menerima pemberian orang lain," kata Xia Jun mengomentari aksi nekatnya itu.

Tak hanya mendapatkan uang untuk biaya pengobatan, kini kondisi Guo Guo menarik perhatian warga Beijing sehingga banyak dari mereka yang menengok bocah itu di rumah sakit.

"Banyak orang baik datang menengok putra saya di rumah sakit. Terkadang dalam sehari kami menerima 20 kunjungan. Telepon saya terus berdering hingga kehabisan tenaga baterai. Saya mungkin banyak melewatkan panggilan telepon," ujar Xia Jun.

Para penyumbang Guo Guo terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, guru, pegawai negeri, hingga pengusaha. Bahkan, beberapa di antara mereka bersedia membantu Guo Guo pada masa depan.


Sumber | Tribunnews

Pamer Barang Mewah
Semua orang tentu senang jika memiliki banyak uang, bisa membeli barang mewah dan keliling dunia sesuka hati tanpa harus bekerja keras. Tapi.. jika ada orang kaya yang tidak bijak terhadap kekayaannya dan pamer secara berlebihan, bisa-bisa orang lain marah dan memberi kecaman.

Gadis cantik ini bernama Gao Yue Er, dia adalah anak orang kaya yang tinggal di China. Seperti remaja pada umumnya Gao Yue Er senang berfoto dan membaginya di dunia maya. Sayangnya, bukan foto seru dengan teman-temannya yang dipamerkan, tetapi foto barang-barang mewah miliknya dan setumpuk uang yang jumlahnya, dilansir Asiaone.

Pamer Barang Mewah

Meskipun foto pamer harta yang dilakukan para remaja kaya sedang menjadi tren di China, foto-foto Gao Yue Er dianggap berlebihan dan keterlaluan. Dia memamerkan foto tas dan sepatu bermerek yang berharga puluhan juta rupiah. Gao Yue Er juga memotret dirinya berselimut tumpukan uang. Bahkan, gadis ini seolah ingin memperlihatkan bahwa dia kebanyakan uang dan berpose dengan korek api menyala untuk membakar uang.

Melihat foto-foto Gao Yue Er beredar di dunia maya, masyarakat China mengeluarkan reaksi berupa kemarahan dan kecaman. Silakan jika ingin menggunakan uang pribadi untuk bersenang-senang, tetapi tidak perlu sampai memamerkan kekayaan secara berlebihan, demikian rata-rata tanggapan para pengguna internet.
Pamer Barang Mewah



Sumber | Vemale

Karena Makan Sambil Berjalan, Sumpit Menembus Lehernya
Orang tua sering melarang kita makan dan minum sambil berdiri, mungkin kedengarannya seperti nasihat biasa saja. Makan dan minum dengan cara berdiri apalagi sambil berjalan, merupakan tidakan yang kurang baik, Sebab tindakan itu dapat menyebabkan efek yang negatif.

Seperti yang terjadi di Hubei daerah di China, seorang anak laki-laki 12 tahun yang sedang makan sambil berjalan tertancap sumpit baja dilehernya.

Sperti di laporkan Shanghaiist.com, Anak itu baru saja membeli makanan dan berjalan kembali ke sekolah ketika ia tertabrak motor skuter yang dikendarai seorang wanita, yang sedang dalam perjalanan untuk mengantarkan makan siang untuk anaknya. Karena tidak bisa menghindar anak itu jatuh ke tanah, sumpit yang dipegangya menembus lehernya dan menembus tenggorokannya.

Kemudian anak itu dibawa ke dokter, untung sumpit yang masuk ke leher tidak sampai membunuh, dan dokter bisa mengatasi dan mengambil sumpit tanpa menimbulkan korban.

Kungkin itu bisa menjadi pelajaran bagi kita semua, bahanya makan sambil berjalan

Lihat video kronologinya disini.

Cek Atm
Di jaman modern saat ini tidak menutup kemungkinan teknologi yang super canggih bisa saja melakukan kesalahan. Manusia sebagai operator teknologi juga menjadi salah satu faktor penting yang membuat teknologi yang canggih mengalami sebuah kesalahan. Misalnya saja kasus kesalahan dalam transfer uang di bank, seperti kasus yang terjadi di China.

Dilansir dari Shanghaiist, seorang perempuan bernama Wu, 51 tahun asal Sichuan, China, tiba-tiba mendapat SMS banking. Yang mengabarkan kalau pihak bank sudah mentransfer uang sejumlah 496,906,436.18 Yuan (sekitar 1,3 Triliun) ke rekeningnya.

Isi sms jumlah transfer
Waktu menerima sms, Wu sedang memasak untuk makan siang, awalnya ia merasa itu adalah sebuah penipuan, namun sorenya ketika dirinya memeriksa di ATM, ia terkejut ternyata ada uang dalam jumlah banyak direkeningnya.

"Saya memeriksanya sebanyak tiga kali dan selalu saja muncul angka tersebut yakni 496 juta," ujar Wu.

"Melihat uang yang begitu banyak, saya berpikir. Ini bukan uang saya dan mengembalikannya adalah hal yang benar," tuturnya.

Wu langsung pergi ke bank dan teller mengatakan bahwa itu adalah kesalahan dari seorang pegawainya. Uang tersebut lalu diambil dari rekening Wu dan pegawai yang melakukan kesalahan transfer langsung dipecat.

Bank pun berterima kasih atas kejujuran Wu. Meski, seandainya Wu tidak jujur pun, perubahan saldo drastis itu pasti juga bakal diketahui bank. Wu pun banyak menerima pujian di jagat media.

"Jika ia tidak mengembalikannya, ia akan digugat oleh bank dan didakwa atas kepemilikan uang ilegal," ucap seorang netizen, kejiobiandaolaosu.


Seorang Penumpang Nekat Buka Pintu Pesawat, Ingin Cari Udara Segar
Seorang penumpang pesawat Xiamen Air, sebuah maskapai penerbangan di China membuat panik dan ketakutan penumpang lainnya di pesawat tersebut pekan kemarin.

Saat pesawat bersiap tinggal landas dari Hangzou ke Chengdu,  penumpang pria itu tiba-tiba berdiri dari kursi dan langsung  membuka pintu darurat. Alasannya pria itu ia hanya ingin mencari udara segar.
Saat pintu darurat terbuka,pria itu langsung mengeluarkan kepala dan angin pun menghempas kuat kepalanya. Tapi pria ini terlihat senang  dan sangat menikmati udara segar.

Dalam pristiwa yang membuah heboh petugas bandara dna keamanan setempat itu  sempat direkam beberapa penumpang lainnya. Beberapa orang penumpang dekat pintu langsung menyalakan kembali handphone mereka dan merekam kejadian tersebut.

Dalam foto yang diambil penumpang menunjukkan, pria paruh baya tersebut  mengenakan mantel biru berkerudung. Saat itu kepalanya terlihat keluar pintu menikmati udara. Seorang pramugari terlihat memamndang kaget ke arah si pria. "Ini pertama kalinya saya melihat penumpang membuka pintu keamanan," ujar  si penumpang.

Beberapa saat setelah kejadian, petugas pemeliharaan maskapai langsung memperbaiki darurat tersebut  dan tak beberapa lama kemudian pesawat tersebut tinggal landas. "Kita harus cepat memperbaiki dan pesawat segera tinggal landas," ujar Seorang Staf Bandara Hangzhou kepada SM Daily

Beruntung, pasca kejadian tersebut pihak maskapai tidak berencana untuk menghukum penumpang, alasannya ulah pria itu hanya ingin cari udara segar  dan bukan bermaksud membahayakan penerbangan.

"Itu adalah perjalanan pertamanya melalui udara. "Dia tidak menyebabkan keterlambatan atau kerugian langsung kepada maskapai," ujar seorang pihak Maskapai Xiamen Air.


Sumber | Tribunnews

Wang Zhihua, 12 tahun harus menjadi tulang punggung keluarga
Teras Berita -Sungguh beruntung bocah-bocah yang memiliki kedua orang tua sehat, sehingga mereka dapat bermain suka ria bersama teman sebaya nya, tapi hal itu tidak di rasakan oleh seorang bocah di Tiongkok, masa kecilnya kini telah terampas akibat ayah dan ibu sakit keras.
Dilansir dari english.peopledaily.com.cn, Wang Zhihua, 12 tahun harus menjadi tulang punggung keluarga seperti memasak, belanja, mencuci dan merawat orang tua nya. Ketika berbicara tentang anaknya, Zhang yinxia, ​​ibu Zhihua tidak bisa berbicara hanya menangis, ia tak tega melihat kondisi anaknya yang menanggung beban hidup yang cukup berat.


Wang Zhihua, tinggal di Changfeng County Hefei, ibukota provinsi Anhui, China timur. Pada bulan Agustus 2012, Zhang Yinxia, ​​ibu Zhihua, didiagnosis dengan Green Valle syndrome adalah penyakit neurologis yang serius yang dapat menyebabkan cacat fisik permanen. Wang Bangfu, ayah Zhihua terbaring di tempat tidur Mei 2013 menderita osteoporosis, rematik dan hyperosteogeny selama bertahun-tahun.

Sejak itu, Wang Zhihua, anak 12 tahun menjadi pilar keluarganya. Menghadapi keadaan itu, Zhihua mengambil tanggung jawab untuk mengurus orangtua nya dan melakukan semua pekerjaan rumah tangga. Pada saat yang sama, sebagai  siswa, ia belajar keras dan bercita-cita menjadi dokter ketika tumbuh dewasa untuk menyelamatkan nyawa orang lain dan menyembuhkan orang tuanya.

Sumber | Rinagu

 Peng Shuilin

Sudah seharusnya kita bersyukur dan berterima kasih kepada tuhan, karena dianugerahi tubuh yang sempurna.

Dalam keseharian kita sering mengeluh dan merasa kurang, dengan apa yang kita miliki, dan yang kita inginkan.

Bagaimana kalau hidup kita yang sudah sempurna ini, seketika berubah menjadi terpuruk, akankah kita menyesalinya atau akan berusaha bangkit seperti, kisah Peng Shuilin ini.

Peng Shuilin dilahirkan di Provinsi Hunan, China. Pada awalnya Peng Shuilin mempunyai anggota badan yang sempurna.

Pada tahun 1995 di Shenzhen, Peng Shuilin mengalami kecelakaan yang luar biasa, sebuah truk barang melindasnya. Akibat kecelakaan tersebut Peng harus kehilangan setengah dari badannya. Tubuh bagian bawah dan kedua kakinya tidak dapat dipertahankan lagi. Kecelakaan tragis itu menyisakan sekitar 78 cm tubuhnya yang bisa diselamatkan.

Peng Shuilin menghabiskan hampir dua tahun hidupnya di rumah sakit di Shenzhen, Cina selatan. 20 orang dokter ikut menangani serangkaian operasi untuk merajut setiap organ utama atau sistem dalam tubuhnya.

Para dokter saat itu hanya berusaha bagaimana caranya agar Peng dapat tetap bertahan hidup.

Melihat kondisi tubuh Peng yang sangat parah karena tidak mempunyai kaki para dokter  casing seperti cangkang telur untuk menahan tubuhnya, dengan dua kaki bionik.

Peng akhirnya bisa berjalan-jalan walaupun masih di areal koridor Pusat Rehabilitasi Beijing.

Melihat kisah Peng Shuilin, kita pasti kagum dan terharu akan kehebatan Peng dalam menghadapi masa-masa tersulit dalam hidupnya. Peng sering dijadikan inspirator untuk menjadi seorang pengusaha bagi mereka yang telah mengalami cacat tubuh atau yang telah diamputasi bagian tubuhnya.

Peng Shuilin kini  memiliki supermarket murah, dengan moto yang dia buatnya sendiri yang disebut “Half Man Half Price Store”.

Peng Shuilin memang tergolong manusia penyabar tanpa mengeluh menjalankan hidupnya. Walaupun ia hidup dia tas kursi roda, tapi ia bisa bergerak leluasa

Pengemis China

Teras Berita - Ada banyak orang yang meminta belas kasihan orang lain dengan menengadahkan tangan. Sebagian dari mereka memang sudah renta, ditinggal keluarga dan tak punya tempat tinggal, sehingga mengemis adalah pilihan terakhir untuk bertahan hidup. Sedangkan sebagian pengemis lain, mereka masih muda namun meminta-minta. Parahnya lagi, mereka ternyata bergaya hidup mewah. Gaya hidup ini tak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara lain.

Pengemis China
Pura-pura sakit agar mendapat iba | Foto: copyright stomp.com.sg

Seorang fotografer senior bernama Zhengzhou dari China membeberkan foto yang sangat menyedihkan. Dilansir oleh stomp.com.sg, Zhengzhou membuntuti tiga orang pengemis. Mereka tampak sangat profesional, pakaian mereka compang-camping, para pengemis yang tampaknya satu keluarga itu bahkan menangis menyayat hati saat meminta-minta. Sudah pasti banyak orang tak tega dan memberikan beberapa keping uang pada mereka.

Pengemis China
Sarapan burger di restoran saji | Foto: copyright stomp.com.sg

Namun tak sampai disitu, sang fotografer menunggu hingga seharian hingga terkuak fakta yang sangat menyedihkan. Tiga pengemis itu tidak benar-benar miskin. Kehidupan mereka jauh dari rumah kumuh atau membeli makan dengan prihatin. Tiga pengemis itu sarapan burger di restoran cepat saji. Saat siang hari, mereka makan daging sapi di sebuah restoran, plus minum bir, mencuci mulut dengan semangka dan makan es loli. Saat malam tiba, mereka makan di restoran mewah hotel bintang lima.

Bayangkan! Bahkan orang yang memberi mereka uang belum tentu bisa makan di restoran hotel bintang lima. Hanya orang-orang kaya dan orang penting yang bisa menikmati kemewahan hotel bintang lima. Tak hanya itu, sang fotografer berhasil mengabadikan para pengemis saat membeli barang-barang mewah.

Pengemis China
Memilih beberapa barang dan perhiasan mewah | Foto: copyright stomp.com.sg

Dengan pura-pura sakit dan menangis, mereka mendapat banyak uang di luar apa yang Anda bayangkan. Jelas saja mereka bisa makan di hotel bintang lima yang super mahal, rata-rata penghasilan pengemis adalah RMB $ 3.000 atau sekitar Rp 6 juta.

Maka waspadalah jika Anda memberi bantuan. Akan lebih baik jika Anda memberi bantuan pada keluarga dengan latar belakang yang memang pantas menerima bantuan. Jangan sampai Anda tertipu oleh mereka-mereka yang tampak sengsara namun menghambur-hamburkan uangnya.

Inilah beberapa foto lengkap yang memperlihatkan bagaimana 3 pengemis ini memperdaya banyak orang dan menikmati hidup mewah di balik pakaian compang-camping mereka.


Sumber | Vemale

Ibunya Asyik Main Smartphone, Anaknya Mati Tenggelam
Teras Berita - Smartphone sering membuat seseorang lupa waktu bahkan lupa mengawasi orang-orang di sekitarnya. Seperti yang terjadi di China, seorang balita berusia 14 bulan tenggelam di dalam ember dan meninggal saat dibawa ke rumah sakit. Balita tersebut tenggelam karena tidak diawasi oleh ibunya yang sedang asyik memainkan smartphone. Berita duka ini bisa menjadi pelajaran  bagi kita semua, terutama para ibu yang memiliki balita dan anak-anak.

Balita perempuan dari distrik Bao'an, Shenzhen, China meninggal dunia karena tenggelam di dalam ember dan tidak bisa bernapas. Di saat sang anak sedang berjuang untuk hidup, ibu sang balita justru sedang asyik memainkan smartphonenya. Ibu tersebut bermarga Huang (23 tahun), ketika dia sadar sang anak tidak ada di dekatnya, semua sudah terlambat. Saat ditemukan, putri Huang sudah tenggelam di dalam ember kamar mandi rumah mereka.

Kejadian bermula saat Huang terlalu asyik memainkan smartphone, sementara sang anak bermain air di kamar mandi. Diduga terpeleset, balita tersebut tercebur ke dalam ember berisi air kemudian tenggelam. Setelah menemukan sang anak dalam kondisi tak bernapas, Huang langsung membawa putrinya ke rumah sakit. Sayang, nyawa balita tersebut tidak dapat diselamatkan dan meninggal setelah tiba di rumah sakit, dilansir oleh shanghaiist.com.

Kejadian ini membuat banyak orang menyesalkan tindakan Huang yang tidak mengawasi putrinya. "Orang tua harus memberi perhatian kepada anaknya. Sangat menyedihkan hal ini bisa terjadi," ujar seorang tetangga.

Para tetangga mengetahui bahwa Huang menjaga balitanya seorang diri, sementara suaminya bekerja di sebuah pabrik. Karena kejadian ini, suami Huang harus berurusan dengan pihak kepolisian untuk penyelidikan lebih lanjut.

Semoga kejadian yang sama tidak terulang kembali. Benar bahwa setiap anak terutama balita harus mendapat pengawasan ketat dari orang tua mereka. Rasa ingin tahu anak-anak sering membuat mereka melakukan tindakan berbahaya. Maka peran orang tua sangat penting untuk mengawasi dan mengajarkan mereka mana yang boleh, mana yang tidak. Jangan sampai keasyikan mengutak-atik smartphone justru membuat para orang tua lengah dan meninggalkan penyesalan seperti yang dialami oleh Huang.

Sumber | Liputan 6

Jakarta - Akhir-akhir ini media dihebohkan berita seorang pria china yang tubuhnya dikerubungi cacing pita yang disebabkan terlalu sering makan sashimi. Sashimi adalah makanan khas Jepang berupa irisan ikan salmon mentah yang disajikan dalam kondisi segar yang disiram dengan cuka .

Kejadian ini membuat penggemar sashimi menjadi ragu dan khawatir akan kesehatan makanan itu.

Mengutip Livescience,  Keith Schneider, seorang ahli mikrobiologi dari University of Florida mengungkapkan "Parasit pada ikan mentah seperti salmon dapat berkembang menjadi cacing jika tidak disimpan dengan suhu yang benar. Dibanding ikan lainnya, salmon memiliki peluang lebih besar mengalami pertumbuhan larva atau cacing di dalam tubuhnya setelah diangkat dari laut," katanya

Nelayan Jepang biasanya menggunakan es untuk menjaga kesegaran salmon. Proses pembekuan itu membutuhkan suhu hingga -20 derajat Celsius. Namun tidak diketahui pasti berapa lama efek pembekuan ini dapat menjamin kesegaran salmon.

Sebenarnya sashimi tidak akan berbahaya jika kita tahu cara mengkonsumsinya. Salah satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah kehadiran wasabi, pasta hijau dengan rasa yang menyengat di hidung.

Mengutip dari Wasabi.org, wasabi mengandung isotiosiant yang bersifat antimikroba. Isotiosiant dapat menghambat pertumbuhan bakteri yang terdapat pada sashimi, termasuk membunuh pertumbuhan mikroba kecil seperti cacing pita. Namun yang terpenting adalah memastikan bahwa sashimi yang Anda makan berasal dari ikan salmon segar.



Sumber | Tempo

Hobi Makan Sashimi, Pria China Digerogoti Cacing Pita
Hobi memang mahal harganya, apapun akan usahakan dan dilakukan untuk memenuhi hobinya. Tapi apa jadinya kalau hobi itu malah hampir membunuh dirinya. Seperti yang di rasakan seorang pria dari China. Karena hobi makan sushi dan sashimi seluruh tubuhnya dipenuhi cacing pita. Bagaimana bisa?

Pria yang tak disebut namanya itu memeriksakan diri ke dokter. Ia mengeluhkan sakit luar biasa di bagian perutnya dan gatal di seluruh kulitnya.

Dokter yang melakukan pemindaian pada tubuh pasien, menemukan kodisi horor: cacing pita memenuhi badan pria tersebut. Pria ini mengaku sering memakan makanan khas jepang, terutama sashimi. Sashimi adalah salah satu makanan yang terdiri dari irisan ikan mentah yang disajikan dalam kondisi segar yang disiram dengan cuka khas.

Setelah dilakukan pemeriksaan secara lengkap dipastikan bahwa irisan daging mentah yang ada dalam sashimi tercemar telur cacing pita dan dokter setempat meyakini cacing-cacing tersebut masuk kedalam tubuh korban melalui sashimi yang dimakannya.

Sejumlah penelitian menunjukan, mengonsumsi ikan mentah atau yang tak matang bisa mengakibatkan berbagai infeksi parasit.

Infeksi cacing pita terjadi setelah pasien menelan larva diphyllobothrium, yang ditemukan pada ikan tawar seperti salmon, yang sudah diasinkan atau diasap. Salmon lahir di perairan air tawar, bermigrasi ke lautan, lalu kembali ke air tawar untuk bereproduksi.

Kasus infeksi cacing pita diketahui meningkat di area-area miskin dengan sanitasi yang buruk. Namun, hal serupa juga ditemukan di negara maju.

Diduga, peningkatan kasus di negara maju diakibatkan makin meningkatnya popularitas sushi dan sashimi. Demikian ditulis di jurnal Canadian Family Physician.

"Makin meluasnya popularitas makanan Jepang, sushi dan sashimi, berkontribusi pada hal tersebut," kata penulis studi, Nancy Craig seperti kutip dari Daily Mail, Kamis (25/9/2014).

"Makanan populer lain juga mungkin terkait, seperti filet (ikan) mentah yang diasinkan -- yang berasal dari Baltik atau Skandinavia. Juga carpaccio -- ikan atau daging mentah super-tipis yang biasa disajikan di Italia, salmon mentah, dan atau ceviche yang direndam cairan garam yang tak terlalu asin."

Sementara, Dr Yin dari Rumah Sakit Guangzhou dalam situs that'smags.com mengatakan bahwa makanan yang terkontaminasi  telur cacing pita bisa menyebabkan cysticercosis -- kondisi ketika cacing dewasa masuk ke aliran darah seseorang.

Tipe infeksi ini tak bisa dianggap remeh. Bisa mengancam jiwa seseorang, jika cacing mencapai otak manusia.


Sumber | Liputan 6

Pelajar China
Jakarta - Untuk mendapatkan sesuatu barang yang kita inginkan, kadang kita harus rela berkorban apa saja demi mendapatkan barang yang di maksud. Tetapi apakah sampai terpikir kalau demi sesuatu harus menjual kekasih kita. Itulah yang dilakukan seorang pelajar asal Shanghai, China menyewakan pacarnya demi iPhone 6.

Pemuda dari Universitas Songjiang ini berdiri di depan kampusnya dan membawa papan besar bertuliskan “Berbagi Pacar”. Orang-orang yang tertarik dengan penawaran ini kemudian mendekat dan mulai melihat-lihat foto dari pacar sewaan tersebut.

Untuk mendapatkan uang lebih, pria tersebut rela "meminjamkan" pacarnya yang cantik kepada pria-pria yang ada di sekitar Universitasnya. Tentunya kejadian ini menjadi perbincangan para onliner di sosmed karena bisnis penyewaan kekasihnya itu.

Ia bahkan mencantumkan informasi secara detail mengenai pacarnya yang memiliki tinggi 170 cm, berat 48 kg serta berbintang Virgo dan sedang belajar bahasa asing. Pria itu juga memberikan pilihan kecan seperti makan bersama, belajar ataupun bermain game.

Tercantum dalam iklan, layanan yang sangat bervariasi tersebut tentu kisaran harga yang dipatok berbeda-beda. Pria ini mematok tarif sekitar 20.000 rupiah per jam hingga satu juta rupiah per bulan.

"Aku putus asa karena kekurangan uang untuk membeli iPhone 6. Jadi, aku menyewakan pacar-ku yang cantik untuk disewakan," ucap pemuda itu.

Aksinya tersebut langsung menjadi sorotan pejalan kaki di sekitar Universitas Sonjiang. Mereka bahkan tak membayangkan tindakan yang dilakukan pemuda itu untuk mendapatkan iPhone 6. "Bagaimana kalau iPhone 7 sudah rilis, apakah dia akan menyewakan istrinya?," tanya salah satu warga sambil terheran-heran.

Akan tetapi ternyata ini bukan kasus unik pertama yang terjadi di Tiongkok. Tahun 2012 lalu seorang remaja asal Hunan menjual ginjalnya untuk membeli iPhone dan iPad. Pada kasus lain juga pernah ditemukan pasangan yang menjual anaknya sendiri di internet untuk membeli iPhone.


Rupa-rupanya keinginan akan produk apple memang bisa membuat orang berlaku tidak rasional

Bagaimana dengan Anda?


Berbagai Sumber

Kisah Mengharukan di Balik Foto Anak Menggendong Ibunya
Teras Berita - Beberapa waktu yang lalu, sebuah foto yang menyentuh hati tersebar di internet. Foto itu menggambarkan seorang pria yang menggendong wanita lanjut usia dengan kain gendongan, seperti seorang ibu yang menggendong anaknya. Foto itu begitu mencuri perhatian dan banyak orang yang bertanya, siapa dia? Siapa yang digendongnya? Apa yang sedang mereka lakukan?

Foto tersebut rupanya adalah foto seorang pria yang sudah berusia 62 tahun dan bernama Ding Zhu Ji. Ia sedang berada di salah satu rumah sakit di China untuk mengantarkan ibunya. Sang ibu yang sudah berusia sangat tua, ringkih dan mengalami patah tulang, akhirnya digendong oleh Ding Zhu Ji ke rumah sakit. Ia melakukannya karena berpikir bahwa menggendong ibunya ke rumah sakit akan lebih cepat sampai dan dirinya tidak akan merasa terlalu lelah walau menggendong ke sana.

Pria ini sama sekali tak menduga bahwa apa yang ia lakukan akan mencuri perhatian banyak orang. Pemandangan yang begitu menyentuh ini kemudian diabadikan oleh seseorang dalam bentuk foto yang kini beredar luas di internet. Selain itu, CCTV rumah sakit juga sempat merekam momen di mana pria ini menggendong ibunya yang nampak seperti bayi.


Sang ibu saat ini sudah berusia 85 tahun, namun Ding Zhu Ji mengisahkan bahwa ia sangat berhutang budi pada ibunya. Saat masih mengandung Ding Zhu Ji usia 6 bulan, keduanya nyaris dilempar ke laut karena sang ibu tidak sengaja menghilangkan kartu identitas naik perahu bersama prajurit Taiwan. Banyak orang yang memohon agar ibu Ding Zhu Ji yang sedang mengandung itu tidak dilempar ke laut, hingga detik-detik menegangkan itu berubah melegakan karena ada orang yang menemukan kartu identitas mereka.

Ding Zhu Ji yang mendengar kisah itu dari ibunya menjadi semakin sayang pada wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya tersebut. Meski merupakan anak sulung, dirinyalah yang paling dekat dengan sang ibu. Bahkan hingga setua ini pun, ia masih merawat sang ibu. Ding Zhu Ji juga merasa bersalah karena tak menjaga ibunya dengan baik sehingga mengalami patah kaki kiri. Ding Zhu Ji pernah sangat ingin membawa ibunya yang sudah menua dan mulai pikun untuk pulang dan menemui saudara di Tiongkok. Sayangnya sebelum itu sempat terjadi, sang ibu sudah kehilangan ingatannya dan hal itu membuatnya sangat menyesal.

Anda pasti pernah sejenak mengingat masa kecil Anda, kemudian membandingkannya dengan masa sekarang di mana Anda sudah dewasa dan bisa memilih serta memutuskan apa yang Anda inginkan. Masa kecil Anda dengan orang tua yang menimang dan menyayangi, sesekali memarahi dan membuat kita menangis atau kesal. Namun semua itu pada dasarnya adalah wujud kasih sayang orang tua yang ingin selalu bisa melindungi anaknya.

Lantas, sudah berbuat apakah kita pada orang tua? Bayangkan bila kita tua nanti. Kita bukan lagi sosok yang kuat dan bergairah seperti sekarang. Kita sudah menjadi sosok yang rapuh dan perlahan tapi pasti, usia akan memundurkan semua kemampuan kita. Kita akan kembali seperti bayi yang butuh pertolongan anak-anak kita.

Ding Zhu Ji adalah sebuah inspirasi nyata mengenai anak yang berbakti pada ibunya. Bagaimanapun orang tua kita sudah menua dan pikun, dahulunya mereka adalah orang yang selalu menuntun kita berjalan, mengajari kita bicara, tempat berlindung dan mencurahkan air mata, tempat bermanja yang tulus dan menyayangi kita. Berbaktilah pada orang tua. Lakukan apa yang bisa kita lakukan untuk membahagiakan mereka selagi kita masih bersama mereka.

Tunjukkan kehadiran Anda yang tersenyum tulus padanya. Maka tak ada yang lebih membahagiakan kedua orang tua Anda selain anak-anaknya yang masih mengingat dan menyayangi mereka.


Sumber | Vemale.com
Diberdayakan oleh Blogger.